Dunia Islam terdiam, tenggelam dalam kebisuan yang memekakkan. Masjid-masjid penuh sesak pada Jumat, tapi jalanan kosong dari aksi nyata. Kita sibuk dengan urusan kecil, memperdebatkan hal remeh, sementara darah saudara kita mengalir di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem. Konferensi diadakan, kecaman dilontarkan, tapi tangan tetap diam, tak menggenggam senjata pembelaan, entah itu pena, harta, atau langkah di medan juang. Kita menipu diri dengan alasan "ini bukan urusanku" atau "apa yang bisa kulakukan?", padahal setiap dari kita punya peran dalam mengakhiri derita ini, sekecil apa pun itu.
Lalu, apa yang akan kita katakan di akhirat nanti? Ketika Allah bertanya, "Di mana engkau saat Palestina menangis?" Akankah kita menunduk, mencari-cari dalih di antara puing-puing keegoisan kita? Setiap doa yang kita panjatkan tak akan cukup jika tak dibarengi tindakan. Palestina adalah cermin iman kita, ia menunjukkan seberapa dalam cinta kita pada keadilan, seberapa teguh kita melawan kezaliman. Diam kita hari ini adalah beban yang akan menghantam timbangan amal, dan tak ada alasan yang bisa membela kelambanan kita di hadapan Sang Maha Adil.
Bangunlah sebelum terlambat. Jerit Palestina bukan hanya seruan minta tolong, tapi panggilan untuk kita kembali pada jiwa umat yang hidup. Jika hari ini kita memilih bungkam, maka esok kita akan mendengar jerit itu bergema di liang lahat, mengguncang nurani yang sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa. Jangan biarkan sejarah mencatat kita sebagai generasi yang tuli pada penderitaan saudara sendiri. Bergeraklah, bersuaralah, lawanlah dengan apa yang kau punya, karena di setiap tetes darah Palestina, ada pertanggungjawaban yang menanti kita di hari kiamat.
0 Komentar